SMANSA WASTE & RECYCLING BANK

Menurut Wikipedia, Bank sampah adalah suatu tempat yang digunakan untuk mengumpulkan sampah yang sudah dipilah-pilah.[1] Hasil dari pengumpulan sampah yang sudah dipilah akan disetorkan ke tempat pembuatan kerajinan dari sampah atau ke tempat pengepul sampah.[1] Bank sampah dikelola menggunakan sistem seperti perbankkan yang dilakukan oleh petugas sukarelawan .[1] Penyetor adalah warga yang tinggal di sekitar lokasi bank serta mendapat buku tabungan seperti menabung di bank.[1]

Sebagai salah satu komponen manajemen sampah di sekolah, bank sampah sangat diperlukan karena sampah yang semakin banyak tentu akan menimbulkan banyak masalah, sehingga memerlukan pengolahan seperti membuat sampah menjadi bahan yang berguna, serta adanya keprihatinan masyarakat akan lingkungan hidup yang semakin lama semakin dipenuhi dengan sampah baik organik maupun anorganik. Pengelolaan sampah dengan sistem bank sampah ini diharapkan mampu membantu sekolah dalam menangani sampah dan meningkatkan ekonomi masyarakat anggota sekolah. Selain itu, gerakan bank sampah ini juga sangat mendukung program Adiwiyata sekolah untuk menciptakan lingkungan sekolah yang bersih dan indah sehingga lebih kondusif untuk atmosfir belajar mengajar.

Untuk membentuk bank sampah, ada beberapa hal yang sudah dilakukan di SMAN 1 Genteng, antara lain:

  1. Pemilahan sampah sesuai dengan jenisnya yang dilakukan sejak dari sumbernya (ruang kelas).
  2. Tiap kelas memiliki sarana untuk mengumpulkan sampah kering terpilah, misalnya plastik bekas kemasan minuman.
  3. Menyediakan pengurus bank sampah.
  4. Membuat kesepakatan jadwal penjualan.
  5. Membuat sistem administrasi.
  6. Memiliki pengepul dengan jadwal pengambilan rutin.

 

 

 

 

 

 

 

Sama seperti di bank-bank penyimpanan uang, para nasabah dalam hal ini para perwakilan siswa yang sudah ditunjuk per kelas bisa langsung datang ke bank untuk menyetor sampah terkumpul. Bukan uang yang di setor, namun sampah yang mereka setorkan. Sampah tersebut di timbang dan di catat di buku rekening oleh petugas bank sampah. Dalam bank sampah, ada yang di sebut dengan tabungan sampah.

Hal ini adalah cara untuk menyulap sampah menjadi uang sekaligus menjaga kebersihan lingkungan dari sampah khususnya plastik sekaligus bisa dimanfaatkan kembali (reuse). Biasanya akan di manfaatkan kembali dalam berbagai bentuk seperti tas, dompet, tempat tisu, dan lain-lain. Syarat sampah yang dapat di tabung adalah yang rapi dalam hal pemotongan. Maksudnya adalah ketika ingin membuka kemasannya, menggunakan alat dan rapi dalam pemotongannya. Kemudian sudah di bersihkan atau di cuci.

Yang terakhir, para siswa perwakilan harus menyetorkan minimal 1 kg. Ada dua bentuk tabungan di bank sampah. Yang pertama yaitu tabungan rupiah di mana tabungan ini di khususkan untuk anggota warga kelas per kelas dalam satu sekolah. Dengan membawa sampah ke bank sampah kemudian di tukar dengan sejumlah uang dalam bentuk tabungan.uang tersebut bisa dimanfaatkan sesuai dengan kesepakatan kelas.

Beberapa contoh kemasan plastik yang dapat di tukar yaitu menurut kualitas plastiknya. Kualitas ke 1 yaitu plastik yang sedikit lebar dan tebal (karung beras, detergen, pewangi pakaian, dan pembersih lantai). Kualitas ke 2 yaitu plastik dari minuman instan dan ukurannya agak kecil (kopi instan, suplemen, minuman anak-anak, dan lain-lain). Kualitas ke 3 yaitu plastik mie instan. Kemudian kualitas ke 4 yaitu botol plastik air mineral yang merupakan sampah terbanyak di tiap kelas. Yang paling rendah yaitu kualitas 0 adalah bungkus plastik yang sudah sobek atau tidak rapi dalam membuka kemasannya. Karena akan susah untuk di gunakan kembali dalam berbagai bentuk seperti tas, dompet, tempat tisu, dan lain-lain. Untuk kualitas yang terakhir, harus di setor dalam bentuk guntingan kecil-kecil (di cacah).

Untuk merealisasikan grand-concept dari bank sampah ini sangat memerlukan kerja sama nyata dari semua pihak anggota sekolah, yang mana hal tersebut sudah berjalan dengan baik di SMAN 1 Genteng. Walaupun demikian, inovasi dan improvisasi para pengurus tetap diharapkan bisa dilakukan untuk meningkatkan efektifitas dan manfaat bagi seluruh warga sekolah. Salah satunya adalah meningkatnya kesadaran mindset untuk menciptakan Eco-living di lingkungan sekolah. Mengingat pentingnya manfaat bank sampah di sekolah, maka akan lebih baik lagi apabila mindset Eco-living ini tidak hanya diciptakan di sekolah, melainkan di lingkungan-lingkungan lain luar sekolah seperti rumah, RT, RW, atau bahkan gerakan kampung atau desa yang bisa dilakukan oleh masyarakat luas; yang mana siswa SMAN 1 Genteng bisa menjadi pioneers sebagai agent of change bagi masyarakat global.

 

By Wahyu Pinasti, S.Pd.